Rabu, 22 Juli 2026 Portal Berita · Indonesia
Terkini
Lewat Program IJD, Kementerian PU Muluskan Akses Ekspor Kayu Arang dan Pariwisata di Kotabaru  ·  Presiden Resmikan 5 Bendungan Baru, Kementerian PU Pastikan Air Irigasi Mengalir ke Sawah Petani  ·  Dorong Pariwisata dan Mitigasi Bencana, Kementerian PU Siap Perpanjang Runway Bandara Bandaneira Jad  ·  Cegah Abrasi dan Intrusi Air Laut, Kementerian PU Lanjutkan Pengamanan Pantai Lampu Satu Merauke  ·  Dukung Pariwisata dan Distribusi Logistik, Kementerian PU Segera Bangun Jalan 12,65 Km di Banda Neir  ·  Bendungan Rukoh Resmi Beroperasi, Jadi Benteng Antibanjir dan Penopang Ketahanan Pangan Aceh  ·  Tinjau Proyek Malam Hari, Menteri PU Kebut Pelebaran Jalan Serdang–Bojonegara–Merak Jadi 4 Lajur  ·  Percepat Pemulihan Pascabencana, Kementerian PU Kebut Pembangunan SPAM di Pelosok Aceh
Bendungan Rukoh Resmi Beroperasi, Jadi Benteng Antibanjir dan Penopang Ketahanan Pangan Aceh

Bendungan Rukoh Resmi Beroperasi, Jadi Benteng Antibanjir dan Penopang Ketahanan Pangan Aceh

Berita Pu 13 dibaca

PIDIE – Kehadiran Bendungan Rukoh di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh, membawa angin segar bagi masyarakat. Diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada Jumat (10/7/2026), infrastruktur megah ini dirancang bukan sekadar sebagai penyedia air irigasi, melainkan juga sebagai instrumen vital untuk memitigasi bencana hidrometeorologi, khususnya banjir yang kerap melanda wilayah Pidie.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menegaskan bahwa pembangunan bendungan ini merupakan bentuk investasi jangka panjang pemerintah. Tujuannya adalah mengelola sumber daya air secara maksimal agar memberikan pelindungan dan kesejahteraan bagi masyarakat, sekaligus menjawab tantangan perubahan iklim.

"Betapa pentingnya pengelolaan air. Air yang tertampung di bendungan ini harus bisa menjadi irigasi bagi sawah, sumber air baku masyarakat, potensi energi, serta pelindung bagi kawasan hilir dari ancaman banjir," jelas Menteri Dody.

Infrastruktur Mitigasi Bencana Iklim

Secara spesifik, Bendungan Rukoh diproyeksikan sebagai infrastruktur pengendali daya rusak air. Memiliki kapasitas tampung raksasa mencapai 128,65 juta meter kubik dengan luas genangan sekitar 687 hektare, bendungan ini diharapkan mampu meredam luapan sungai akibat tingginya curah hujan di kawasan tersebut.

Bendungan ini memiliki fungsi reduksi banjir seluas 51 hektare dan secara teknis dirancang untuk mengendalikan banjir hingga periode ulang 50 tahunan di Kabupaten Pidie. Dengan pengaturan debit aliran sungai yang lebih terkendali, limpasan air ke kawasan permukiman maupun lahan pertanian di bagian hilir dapat ditekan secara signifikan.

Irigasi Premium: Target 3 Kali Panen Setahun

Berada di aliran Sungai Krueng Rukoh dengan suplai air dari Bendung Pengarah Sungai Krueng Inong, infrastruktur ini menjadi urat nadi bagi Daerah Irigasi (DI) Baro Raya seluas 12.194 hektare, yang mayoritas berada di Kecamatan Keumala dan Sakti.

Menteri Dody mengistilahkan pasokan air dari bendungan ini sebagai "Irigasi Premium".

"Irigasi premium adalah sistem irigasi yang ketersediaan airnya dijamin penuh oleh bendungan sepanjang tahun. Dengan adanya bendungan dan sistem irigasi ini, para petani kini bisa menanam hingga tiga kali dalam setahun," ungkapnya.

Optimalisasi pasokan air ini diproyeksikan mampu mendongkrak Indeks Pertanaman (IP) dari yang awalnya 191 persen menjadi 300 persen. Dengan target produksi mencapai 6 ton per hektare, Kabupaten Pidie siap memperkuat kontribusi Aceh dalam menyokong program swasembada pangan nasional yang dicanangkan melalui Asta Cita Presiden Prabowo.

Pemasok Air Baku dan Energi Hijau

Selain manfaat irigasi dan pengendalian banjir, Bendungan Rukoh juga memiliki peran strategis ganda. Bendungan ini mampu menyuplai air baku sebesar 900 liter per detik yang diproyeksikan dapat memenuhi kebutuhan sekitar 22.848 jiwa di Kecamatan Titeue dan area sekitarnya.

Dari sektor energi terbarukan, bendungan ini menyimpan potensi besar untuk dikembangkan menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 140 Megawatt (MW) serta Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) sebesar 1,22 MW.

Proyek yang menelan anggaran sekitar Rp1,7 triliun ini dibangun secara bertahap sepanjang periode 2018–2024. Konstruksinya dibagi ke dalam dua paket utama: Paket 1 (pembangunan spillway) digarap oleh PT Nindya Karya (Persero), dan Paket 2 (tubuh bendungan dan bangunan pengelak) dikerjakan melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) antara PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Andesmont Sakti

Tulis Komentar
Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!